Pengikut

Kamis, 18 Juli 2019

(Bag 3) Akhirnya Dinda Pindah Sekolah

Kamis, 18 July 2019, Akhirnya hari ini sampailah, hari dimana Dinda merencanakan untuk berpisah dengan teman teman SDIT nya.

Buat seorang Dinda, yang kulatih untuk selalu menginventarisasi segala rasa di hatinya dan punya bakat seni, tentu ini perpisahan yang mengharukan.

Dan qadarallah, di tanggal ini persis, 3 tahun yang lalu adalah hari pertama kali Dinda berlomba mencari bangku di kelas 1. Berikut penggalan kenangan waktu itu, 18 July 2016:

Kenangan 3 tahun yang lalu, di tanggal yang sama Dinda mencari bangku pertama
18 July 2016

Dan hari ini, dengan suara bergetar namun lantang, Dinda membacakan surat perpisahannya yang semalam ia susun. Sketsa surat darinya ia buat semalam, dan aku sempurnakan diksinya.

Teman temannya hening, lalu Dinda bacakan di hadapan teman temannya...

Assalamualaikum warahmatullah,
teman teman yang aku sayangi karena Allah,  dan ibu dan bapak guru yang saya takzim serta hormat selalu,
hari ini adalah hari yang bersejarah dalam hidup saya, 
hari ini hari terakhir saya bersekolah disini, karena saya akan pindah sekolah ke SD Taman Kalijaga.

terima kasih banyak untuk segala cerita kita bersama denganmu wahai teman temanku semua,
kita bermain dalam 3 tahun ini, dari kelas 1 hingga kelas 4, 

sejak dari pertama kali masuk,
berlomba mencari bangku bersama di kelas unggulan ini di hari pertama kita sekolah saat kelas 1 dulu

bermain dan bercanda,...kadang ada yang marah tapi lebih banyak juga cerita ketika kita saling memaafkan

semua hari hari aku disini bersama kalian adalah hari hari yang indah...
kita bersama sama belajar untuk mengerti dari semua yang ibu bapak guru sampaikan...
kadang kita juga bersama sama tidak mengerti, karena mungkin kita sedang capek, lelah berfikir atau bosan
tapi kita harus untuk segera mengerti dengan tugas dan PR PR yang banyak

ada cerita indah saat kita kerja kelompok, bangga rasanya jika hasil kerja kelompok kita diberi jempol oleh bapak ibu guru,
ingin rasanya untuk segera pulang dan bercerita dengan mama ayah
berharap senyum lebar mereka dan pandangan mereka yang berkaca kaca kepada kita,
berharap ayah yang lelah sepulang bekerja senyum lebar dan mengelus kepala kita
semoga kita selalu menjadi kebanggaan buat mama dan ayah kita 

dan ini aku kasih kenang kenangan yang sederhana,

sebuah pulpen masing masing satu, semuanya kebagian, karena aku menyayangi kalian semua
tulislah dengan pulpen ini kata kata yang indah, ilmu yang bermanfaat, dan mungkin perasaan kalian, saat kalian sedang bosan, marah atau sedang senang,...

semoga dari setiap kata kata yang kalian tulis dari pulpen ini, ada aku yang selalu kalian ingat dan doakan.

Aku, dinda fatimah zahra, kelas IV A, teman dan saudari kalian dalam Islam, mohon diri, pamit, dan mohon maaf atas segala kesalahan.

wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ketika surat selesai dibacakan, baru terdengar beberapa sahabat putri Dinda yang menitikkan air mata.

Dinda melipat surat dalam buku tulisnya, lalu membagikan pulpen sebagai kenang kenangan ke teman temannya, satu persatu,  semua-muanya, tak satupun yang tidak Dinda kasih.
Ibu Guru lalu memeluk Dinda di depan teman teman semua.

Lalu semua rekan rekan Dinda ikut  menghambur ke depan...memeluknya bergantian.

Satu fragmen dalam episode Dinda yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Selamat ya Nak..telah belajar mensikapi peristiwa sederhana dengan penuh makna.
Tetaplah semangat dan sabar meniti setiap hari hari,
walau tertatih menyambut masa depan dengan jutaan kisah Indah yang menanti untuk kau syukuri...

Alhamdulillah alaa kulli hal,
Bismillah...

(Bag 2) Dinda Butuh Motivasi dan Kolaborasi, bukan Kompetisi

Selasa, 16 July 2019.


Jam menunjukkan pukul 07:30 Waktu Indonesia Timur, handphone berdering dari Istriku di Cirebon. Batinku, tumben jam segini sudah menelpon, sebab perbedaan waktu antara Jayapura dan Cirebon adalah 2 jam. Berarti saat ini masih jam 05:30 di Cirebon. Mungkin ada yang penting.

Dinda & Bundanya
"Ayah,..." kata istriku setengah berbisik.
"Dinda ga mau sekolah...nangis dia yah...mengeluh pusing cape dan lain lain...tolong bicara dengannya.."

Nun jauh disana suara istriku  beralih ke  suara Dinda,

" Assalamualaikum nak...kenapa nak? kurang sehat badan kah pagi ini? " tanyaku lembut.
"Apakah Dinda ga semangat karena masalah kemarin?"
"ayo ceritakanlah sama ayah..? Apa yang dinda rasakan?"
hening, dan sesaat kemudian  Dinda terbata bata bicara:

"ga ada apa apa yah..Dinda cuma masih ngantuk tadi.....Dinda siap siap mandi dulu ya yah, sebentar lagi berangkat ke sekolah..."

Belum sempat kujawab,  suara handphone sudah  berganti suara istriku,
"Kenapa mah? kok dia ga terbuka dengan ayah?" tanyaku pelan

"Sepertinya Dinda masih kecewa dengan ketidaklulusannya di kelas khotmil yah, ..semalam dia menangis sampai jam 12 malam, ....dia ingin pindah sekolah....dia ga berani terbuka denganmu yah, ga mau mengecewakanmu, karena katanya kasihan dengan ayah sudah jauh jauh kerja di papua buat dinda dan hilmi..kok dinda malah pindah" ujar istriku

"begitu ya...tapi ayah lebih suka Dinda terbuka dengan ayah, ayah ingin dia belajar dengan kerelaan dan hati senang...ga penting prestasi di atas kertas buat ayah, yang penting di usianya sekarang dia cukup mendapatkan penghargaan diri dan penerimaan yang tulus dari lingkungan....jika dia memang mau pindah ayah ga masalah, tapi ayah perlu tahu alasan logisnya dari dia...tolong sore nanti kita diskusi lagi bertiga dengan Dinda ya mah", kututup dengan doa seorang Ayah, karena hakikatnya cuma Allah yang menjamin Dinda, adik dan mamanya dalam Penjagaan.

Ya...aku sadar sesadarsadarnya ketika memberi dinda kesempatan untuk menentukan apakah masuk kelas unggulan ataukah kelas biasa, semua langsung kusampaikan ke Dinda ketika masuk SD ini setelah selesai hasil pendaftaran. Kusampaikan dengan detail, perbandingan kelas unggulan dan kelas biasa, ada benefit dan juga pengorbanannya. Jika masuk kelas Unggulan, harus siap lebih rajin dari kelas yang lain, Dan Dinda memilih masuk kelas unggulan. Bagus, dia mendapat info apa itu kelas unggulan, dia menimbang ,dan dengan sadar dia memilih.

Sejak dinda kelas 1 sampai kelas 4 sekarang, selalu kutanyakan bagaimana perasaannya dengan sekolahnya, apakah dia masih bersemangat, apakah ada hal yang kurang nyaman dia rasakan, apakah ada hal yang membuat dia terganggu.

Dan diakhir pertanyaan, selalu pada akhirnya kutanyakan : Apakah dinda mau pindah sekolah?

Pertanyaan terakhir itu selalu kuupdate dari fikiran Dinda paling tidak setiap habis bagi raport atau setiap satu semester usai.

Mengapa?

Sebagai ayahnya aku bertanggung jawab dunia akhirat untuk mengetahui dan memastikan masa kecilnya tetap indah selazimnya masa kecil seorang anak, karena begitu berat beban yang kupikul di hadapanNya jika ia menghadapi dunia orang dewasa kelak dan ia tidak memiliki bekal cukup untuk mencintai dirinya apa adanya. Apalagi zaman ke depan makin terasa berat, zaman fitnah.

Aku perlu memastikan bahwa di setiap hari harinya, ia tidak kehilangan motivasi dan keasyikan dunia masa kecilnya. Sebab hakikatnya sekolah akan menjadi menyenangkan sepanjang sekolah itu tetap memperhitungkan kemungkinan kejenuhan dan lelah fisik dan fikiran seorang bocah, sehingga masa kecilnya tetaplah indah walaupun terlipat masa.

Aku perlu memilah, mana yang relevan yang paling nyambung dan aplikatif dengan masa depan Dinda,
apakah prestasi di atas kertas bukti yang paling relevan bahwa ia memang penting untuk membangun jiwa?
Bergunakah sesungguhnya prestasi dan scoring nilai nilai ujian itu?
Ataukah penghargaan diri yang terjaga semasa sekolah itu lebih penting dan berhubungan dengan kejiwaan dan kepribadiannya kelak?

Apakah merangsang anak dengan berbagai media belajar yang "SERIUS", bahkan dengan kerja kelompok yang membuat ibunya dan ibu ibu temannya menjadi rempong, (ini yang sekolah anaknya atau ibu ibunya sih? hehe :D)  bisa tetap menyenangkan bagi semua anak? Ataukah jika berhasil sebenarnya ada dampak sosial yang tersembunyi? Misalkan anak lebih berorientasi pada hasil bukan pada proses?

Apakah membiasakan mengikutkan lomba, mengagungkan kata JUARA menjamin akan  paripurna pendidikan dalam membangun jiwa?

Kompetisikah yang anak anak seumur dinda inginkan?

Ataukah itu hanya parameter yang gagal dari orang orang dewasa di sekitarnya yang dahulu juga gagal dididik untuk  memaknai arti sukses secara hakiki? sehingga parameter sukses belajar selalu diindetikkan dengan prestasi akademik, kepandaian dari sisi IQ saja, dan semua yang bersifat kosmetik (nampak di luar) ? Bagaimana dengan yang ada di dalam jiwa? bagaima dengan yang dirasakan setiap anak? Apakah dia memang benar benar mencintai sekolah, ataukah sesungguhnya tidak happy dan tertekan? adakah  assessment kita yang salah sejak awal?

Apakah anak kita, kita paksa sampai batas maksimal tertinggi kemampuannya, baik waktu, konsentrasi, fokus, tenaga, hanya untuk menyelesaikan berbagai pelajaran, PR, tugas, test, kuis,  semata mata demi memenuhi standar penilaian yang berbasis pada ilmu pasti saja? Kecerdasan emosi kurang terukur, terabaikan, atau setidaknya tidak menjadi prioritas?

Pernahkah ada deep analysis mengenai hal ini?

Akhirnya sore hari waktu papua, Dinda berusaha mengungkapkan apa yang dia rasakan. Handphoneku berdering, dan Dinda menyapa. Dia berusaha berkata lugas keinginannya pindah sekolah. Aku berusaha membangun dialog, semua kata katanya aku perdalam dengan pertanyaan. Dinda emosi dan tak bisa berkata apa apa, menangis terisak. Emosinya memenuhi hati.

Handphonenya diberikannya ke Mamanya. Kataku "lhooo kok nangis mah dinda, ...ya udah nanti sore maghrib kan, tolong sampaikan ke dia mah, sholat maghrib dulu nanti, lalu mengaji.. setelah tenang, ayah mohon dia ungkapkan alasannya mengapa dia harus pindah sekolah, tulis dalam selembar kertas dan kirim fotonya"

istriku menyambung, "yah tadi siang dinda ditegur oleh PAK GURU, gara gara mamah kemarinnya nanya ke pak Guru via WA, kenapa dinda ga lulus test, mau tanya saja alasannya apa, karena kita tahu sejak usia 5,5 tahun pun dinda sudah bisa mengaji al quran walaupun versi guru ngaji panggilan.  Nah.. tadi siang katanya dinda di tegur oleh PAK GURU, pak Guru bilang "ini nih suka ngadu ngadu ke mamanya jadi pak guru ditanya tanya kenapa ga lulus. Bapak kan sudah bilang kalau liburan kalian tetap belajar, pasti kamu malas ga belajar dan ngaji"

aku kaget, " haaah...masa Pak Guru bilang begitu dengan Dinda, melabeli Dinda tukang ngadu, dan melabeli Dinda malas? ah mungkin Dinda salah penerimaan mah, namanya sedang sensitif"

"sudah gini aja, nanti ayah telpon pak GURU, biar ga ada kesalahpahaman, dan dinda tidak disudutkan, karena massalah dinda ngadu, itu hanya beda persepsi, justru aku lebih suka anakku terbuka apa yang dia rasakan di sekolah, karena peranku sebagai Ayah juga gurunya di rumah, perlu tahu apa yang terjadi di sekolah.."

10 menit kemudian aku telpon Pak Guru, namun tidak diangkat, 2-3 kali di sore hari. Kusambung juga telpon di malam hari, 2 kali tidak diangkat. Aku paham mungkin ada kesibukan lain jika telpon berkali kali tidak membuat orang mengangkat telepon.

Tak lama setelah itu dinda mengirim foto, tulisan tangan apa alasannya ia ingin pindah. Begini katanya:

Justifikasi Dinda Mengapa Ingin Pindah Sekolah
           
Terus terang aku tersenyum dan takjub membacanya, dia sudah bisa membuat justifikasi alasan masuk akal dan juga keunggulan dari pilihan yang dia ambil.  Tentu saja ini dalam persepsi seorang bocah SD, yang penuh nuansa emosi, cemburu, namun masih membara semangatnya. Aku maklum dan bangga sesungguhnya.

Justifikasi dinda, (1) dia kesal dengan gurunya, disimpulkan pak Guru pilih kasih menurut versi dinda (2) teman2nya yang lulus terlalu atraktif sehingga dinda panas (mohon dimaklumi ya, however she is still my dearest daughter :D) (3) baru juga masuk dah ada PR (4) kakak cape nanti fullday (5) kaka bisa ngaji di tempat lain (jika pindah sekolah) (6) semoga tahun ajaran ini kaka bisa hafal 3 juz.

aku tertawa setelah membaca keseluruhan resumenya.

Oke nak...Approve kamu pindah sekolah!! ðŸ‘Œ

eitt ....namun dengan catatan dan syarat yang harus kamu penuhi yahh...

berikut syarat dari Ayah:

1. kaka harus memaafkan pak GURU, bagaimanapun pa GURU sudah berjasa mengajarkan kaka selama di SDIT, nanti saat berpisah kaka harus memaafkan pa GURU dan pamit, salim dan senyum sambil mengucapkan terimakasih dengan pak GURU, semoga Allah menjadikan kita tetangga di syurgaNya Allah dengan pak GURU dan teman teman kakak...

2. kaka juga harus memaafkan teman teman kaka semua, karena  mereka selama ini sudah menjadi teman yang baik dengan kk, dan saat kaka pindah nanti kaka kasih masing masing kenangan satu pulpen, nanti uangnya dari ayah...


3. mulai detik ini kaka fokus untuk menjadi penghapal Al Quran, selalu berdoa ya nak...berdoa, minta hati kaka dan akal kaka dibuka dan dimudahkan untuk menyerap Al Qur'an, mudahkan memahamkan ajaran Islam, dan berdoa semoga Allah memberi jalan agar kaka menjadi ustadzah yang menuntut ilmu hingga ke makkah madinah dan negeri arab kelak, dan menjadi pemimpin orang orang yang bertaqwa, menjadi kebanggaan mama ayah dan kebanggaan Islam..




WA dengan Dinda

dan malam itu dinda tidur dengan nyenyak, lusa ia akan mempersiapkan kata kata perpisahan di depan teman teman sekelas sesyurganya insya Allah. Dinda harus belajar menghadapi semua masalah dengan tegar dan tabah, menjalani prosesnya menikmati keberkahan keberkahan di dalamnya, sedang bahagia?? ga usah ditanyain nak

Jalani aja nak dengan sabar dan niat ikhlas, sebab jika ikhlas niat kita, akan berkah proses kita, dan jika judulnya berkah maka makmum si berkah pastilah si kebahagiaan :)

Sampai jumpa esok lusa ya nak, di hari perpisahan dengan kawan kawanmu terkasih. Kita akan diskusi lagi by phone. :)

Cium peluk ayah dari Jayapura
4000 kilometer jauhnya tapi hatimu tetap dalam pelukan
-Ayah-

Hatimu selalu dalam pelukan nak..



Akhirnya Dinda Pindah Ke SD Negeri...

Selasa, 16 Juli 2019

(Bag 1) Dinda Belajar Kecewa...


Senin, 15 July, menjelang ashar, di sebuah kantor BUMN (asal China :D) bernama ZTE Office di lantai 5,  dari jauh lamat lamat  terdengar lantunan TARHIM dari masjid raya Jayapura yang jaraknya hanya 5 menit melangkahkan kaki. 

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik
Yaa imaamal mujaahidiin Yaa Rasuulallaah


Tarhim yang sejatinya hanyalah budaya (bukan syariat), sejak zaman 1960 an yang dulu melegenda diperdengarkan di masjid masjid di Jawa Timur, namun di masjid raya ini kini hampir setiap menjelang 5 waktu tiba, diperdengarkan TARHIM 10 menit sebelumnya...

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik                        Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu
Yaa imaamal mujaahidiin Yaa Rasuulallaah        Duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulallah
Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik                         Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu
Yaa naashiral hudaa Yaa khaira khalqillaah        Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik.

Hujan setengah lebat membasahi jalan jalan dan atap atap gedung dan ruko ruko di kota kecil ini,  burung burung pipit sembunyi di balok kayu kayu lapuk di bawah genting. Lapuk karena rayap ataukah lapuk karena sering menjadi kayu basah. Lalu kemudian lama lama menyusut saat kering dan ikatannya menjadi tidak kokoh.

Sopir angkot di kota di ujung indonesia ini merayap melintas jalan, memicingkan mata, mengais cahaya dari jalan yang sesaat meredup, memenuhi angin dan angan dengan rintik air hujan yang bagaikan bunyi kawanan lebah berkejaran membasahi bumi.

"yah, lagi sibuk ga" tiba tiba wa istriku masuk.

Aku langsung tanggap, kutelpon langsung ke nomernya. Lalu berceritalah istriku nun jauh disana di sebuah negeri bernama cirebon, bahwa ia baru saja mengantar pulang anak pertama kami dari sekolahnya (adalah hari ini hari pertama Sekolah, setelah satu bulan lebih liburan), "Dinda" usia 9 tahun kurang 1 bulan, kini duduk di SD kelas IV.  

Dinda Fatimah
Rupanya dinda baru saja ikut seleksi grouping untuk kelas Khotmil Qur'an.

Khotmil adalah sesi lanjutan untuk membaca Al Qur'an dengan baik dan benar termasuk tajwidnya. Rupanya siang itu ada seleksi untuk kelas ini dan Dinda termasuk yang dinyatakan tidak lulus, dan disarankan ikut seleksi lagi di tahun depan (kelas V).

Rupanya kenyataan ini adalah hal yang tidak mudah buat dinda menerimanya. Tangisnya pecah sejak ibunya menjemput di sekolahnya, dan sepanjang perjalanan pulang di atas scoopy dinda terus mengungkapkan kekecewannya sambil mengusap air mata di pipinya.

"Pak GURU kayaknya pilih kasih deh mah...masa teman yang diseleksi IBU GURU  lulus semua, padahal ga monyong monyong makhorijul hurufnya kaya yang dimau PAK GURU.." jelas Dinda,

Mulai deh analisa analisa seorang anak yang didasari rasa cemburu disimpulkannya.

"mana dinda? ayah mau ngomong" ucapku,

Dari jauh hampir tidak ada suara, kufikir conovo atau sinyal drop sehingga tidak ada voice yang ditansmisikan, namun 5 detik kemudian mulai terdengar suara dia terbata bata sambil terisak. Dalam hati aku cuma takjub, dinda rupanya benar benar kecewa :).
Lalu akhirnya terdengar jelas suaranya:

"yah dinda mau pindah sekolah aja deh, disini ga enak " ucapnya, 
mungkin yang dia jabarkan dengan "ga enak" itu ga adil :)
"emang dinda mau pindah kemana ? bukannya disana dinda masih nyaman, ada marching bandnya pula tempat dinda berlatih", kataku menenangkan. 

"ya nyaman sih ya teman temannya enak" lama berfikir sebentar, lalu dinda bilang "nyaman kok yah dinda disini" dengan suara parau yang berubah ceria seketika. (belakangan aku tahu ini adalah bentuk kepurapuraan Dinda karena tidak ingin aku kecewa).

"yaa...sudah kalo dinda nyaman, dinda sabar yah, dinda ga lulus seleksi itu artinya dinda harus banyak belajar lagi supaya terdengar paling indah dan tartil tilawahnya. disaat dinda menangis begini karena kecintaan dinda dengan Al Qur'an Insya Allah, Allah makin sayang dan sedang Tersenyum dengan dinda saat ini.." nasihatku menutup. 

Lazimnya anak kecil, perlu jeda sesaat supaya kesedihannya reda dan akhirnya benar benar lupa.Jadi kupercayakan istilah yang mengatakan bahwa "waktu itu menyembuhkan".

Wajar Dinda kecewa, sebab sejak tahun lalu Dinda sudah ikut seleksi kelas ini, dan gagal, Sehingga ini kali kedua ia gagal. Sehari sebelum seleksi Senin kemarin bahkan Dinda memohon didoakan selalu oleh mbah putrinya. Berulang ulang mengingatkan mbahnya untuk tiap waktu mendoakan kelulusan dinda bergabung dengan kelas khotmil.



Rintik hujan mulai berkurang, namun dingin angin yang berhembus dari bukit bukit pegunungan cyclops papua masih mampu menusuk tulang. Kuakhiri menjelang ashar dengan pesan pesan penyemangat untuk dinda dalam wa lewat mamanya.

Belajar kecewa sejak dini itu baik, sebagaimana hidup tidak selalu sesuai apa yang kita inginkan, dan  jika sedari kecil dinda mengerti itu, akan baik baginya untuk beradaptasi sesuai dengan qadha dan qadar Allah hingga ia dewasa nanti.

 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun". (QS. Al Baqoroh : 155 – 156)

Kututup percakapan tema dengan dinda via aplikasi whatsapp ibunya, entah bagaimana membahasakannya dengan bahasa sederhana agar ia bisa melihat dengan sudut pandang yang lebih ikhlas, terus terang aku kehabisan kata.

Karena ikhlas itu memang tidak mudah diajarkan, disebabkan bab pertama ilmu ikhlas itu diawali dengan belajar menerima kekecewaan.





Bersambung ke....Dinda Minta Pindah Sekolah




Kamis, 11 Juli 2019

Rindu...

Aku rindu untuk memungut bintang di langit
menitipkannya di hatimu, memberi cahaya kehangatannya sampai fajar datang

aku rindu untuk duduk dibawah cahayanya bulan
bersamamu mendamaikan gejolak hati, mendiamkan gelombangnya sampai sepi

aku rindu untuk kita saling mencari
ketika bayang bayang pun pergi, kulanjutkan rinduku dilayarkan dawam doamu
mengarungi laut tanpa arah, merelakan perjalanan asal engkau mendekat

dimanapun engkau berada,
aku rindu untuk kita saling mengerti




Menulis Kembali....

Scripta Mannen verba volant, ungkapan latin kuno itu jika dibahasakan seperti ini, "yang terucap akan berlalu bersama angin, sedangkan yang tertulis dia akan mengabadi". Maknanya adalah kurang lebih bahwa : tulisan itu lebih unggul dari pada apa yang sekedar terucap. 

Zaman sekarang mungkin bagaikan rekaman digital, bisa berupa file dokumen, ataukah rekaman audio dan video. Mengabadi sepanjang medianya tidak rusak dan masih bisa dibaca. Sedang yang sekedar terucap mungkin bisa terpaku dalam ingatan, entah sebab terlalu indah untuk dilupakan atau justru terlalu sakit untuk tidak diingat :D, namun terkadang, ucapan itu menguap bersama angin bagaikan igauan ataukah sekedar janji janji yang tidak disadari. 

Kuniatkan untuk menulis kembali, sebuah kegemaran yang pernah membuatku katarsis dalam keasyikmasyukan menulis bertahun tahun silam, dimasa tulisan dan air mata menjadi teman sehari hari (lebay bin cengeng ya..hahaha.). Sebab dalam menulis kita bagaikan berkenalan dengan kata kata, menyusuri lorong lorong perasaan dan penggalan penggalan ingatan. Membuat kita lebih sadar untuk mendefinisikan setiap peristiwa walaupun peristiwa itu terlihat sederhana, namun bisa memaknainya dengan luar biasa. keren kan :)

Sebab itu blog ini kumulai dengan bismillah, jika ga terlalu keren untuk disimak, mohon sedekahkan rasa maklummu yang dalam, dengan semangat menyayangi, tetaplah mencintaiku tanpa syarat, insya Allah ketulusanmu dan ketulusanku dalam beribadah akan membawa kita berjumpa lagi di syurgaNya Allah kelak...aamiin :)

Jayapura, 11 July 2019
17:02 WIT