Jam menunjukkan pukul 07:30 Waktu Indonesia Timur, handphone berdering dari Istriku di Cirebon. Batinku, tumben jam segini sudah menelpon, sebab perbedaan waktu antara Jayapura dan Cirebon adalah 2 jam. Berarti saat ini masih jam 05:30 di Cirebon. Mungkin ada yang penting.
![]() |
| Dinda & Bundanya |
"Dinda ga mau sekolah...nangis dia yah...mengeluh pusing cape dan lain lain...tolong bicara dengannya.."
Nun jauh disana suara istriku beralih ke suara Dinda,
" Assalamualaikum nak...kenapa nak? kurang sehat badan kah pagi ini? " tanyaku lembut.
"Apakah Dinda ga semangat karena masalah kemarin?"
"ayo ceritakanlah sama ayah..? Apa yang dinda rasakan?"
hening, dan sesaat kemudian Dinda terbata bata bicara:
"ga ada apa apa yah..Dinda cuma masih ngantuk tadi.....Dinda siap siap mandi dulu ya yah, sebentar lagi berangkat ke sekolah..."
Belum sempat kujawab, suara handphone sudah berganti suara istriku,
"Kenapa mah? kok dia ga terbuka dengan ayah?" tanyaku pelan
"Sepertinya Dinda masih kecewa dengan ketidaklulusannya di kelas khotmil yah, ..semalam dia menangis sampai jam 12 malam, ....dia ingin pindah sekolah....dia ga berani terbuka denganmu yah, ga mau mengecewakanmu, karena katanya kasihan dengan ayah sudah jauh jauh kerja di papua buat dinda dan hilmi..kok dinda malah pindah" ujar istriku
"begitu ya...tapi ayah lebih suka Dinda terbuka dengan ayah, ayah ingin dia belajar dengan kerelaan dan hati senang...ga penting prestasi di atas kertas buat ayah, yang penting di usianya sekarang dia cukup mendapatkan penghargaan diri dan penerimaan yang tulus dari lingkungan....jika dia memang mau pindah ayah ga masalah, tapi ayah perlu tahu alasan logisnya dari dia...tolong sore nanti kita diskusi lagi bertiga dengan Dinda ya mah", kututup dengan doa seorang Ayah, karena hakikatnya cuma Allah yang menjamin Dinda, adik dan mamanya dalam Penjagaan.
Ya...aku sadar sesadarsadarnya ketika memberi dinda kesempatan untuk menentukan apakah masuk kelas unggulan ataukah kelas biasa, semua langsung kusampaikan ke Dinda ketika masuk SD ini setelah selesai hasil pendaftaran. Kusampaikan dengan detail, perbandingan kelas unggulan dan kelas biasa, ada benefit dan juga pengorbanannya. Jika masuk kelas Unggulan, harus siap lebih rajin dari kelas yang lain, Dan Dinda memilih masuk kelas unggulan. Bagus, dia mendapat info apa itu kelas unggulan, dia menimbang ,dan dengan sadar dia memilih.
Sejak dinda kelas 1 sampai kelas 4 sekarang, selalu kutanyakan bagaimana perasaannya dengan sekolahnya, apakah dia masih bersemangat, apakah ada hal yang kurang nyaman dia rasakan, apakah ada hal yang membuat dia terganggu.
Dan diakhir pertanyaan, selalu pada akhirnya kutanyakan : Apakah dinda mau pindah sekolah?
Pertanyaan terakhir itu selalu kuupdate dari fikiran Dinda paling tidak setiap habis bagi raport atau setiap satu semester usai.
Mengapa?
Sebagai ayahnya aku bertanggung jawab dunia akhirat untuk mengetahui dan memastikan masa kecilnya tetap indah selazimnya masa kecil seorang anak, karena begitu berat beban yang kupikul di hadapanNya jika ia menghadapi dunia orang dewasa kelak dan ia tidak memiliki bekal cukup untuk mencintai dirinya apa adanya. Apalagi zaman ke depan makin terasa berat, zaman fitnah.
Aku perlu memastikan bahwa di setiap hari harinya, ia tidak kehilangan motivasi dan keasyikan dunia masa kecilnya. Sebab hakikatnya sekolah akan menjadi menyenangkan sepanjang sekolah itu tetap memperhitungkan kemungkinan kejenuhan dan lelah fisik dan fikiran seorang bocah, sehingga masa kecilnya tetaplah indah walaupun terlipat masa.
Aku perlu memilah, mana yang relevan yang paling nyambung dan aplikatif dengan masa depan Dinda,
apakah prestasi di atas kertas bukti yang paling relevan bahwa ia memang penting untuk membangun jiwa?
Bergunakah sesungguhnya prestasi dan scoring nilai nilai ujian itu?
Ataukah penghargaan diri yang terjaga semasa sekolah itu lebih penting dan berhubungan dengan kejiwaan dan kepribadiannya kelak?
Apakah merangsang anak dengan berbagai media belajar yang "SERIUS", bahkan dengan kerja kelompok yang membuat ibunya dan ibu ibu temannya menjadi rempong, (ini yang sekolah anaknya atau ibu ibunya sih? hehe :D) bisa tetap menyenangkan bagi semua anak? Ataukah jika berhasil sebenarnya ada dampak sosial yang tersembunyi? Misalkan anak lebih berorientasi pada hasil bukan pada proses?
Apakah membiasakan mengikutkan lomba, mengagungkan kata JUARA menjamin akan paripurna pendidikan dalam membangun jiwa?
Kompetisikah yang anak anak seumur dinda inginkan?
Ataukah itu hanya parameter yang gagal dari orang orang dewasa di sekitarnya yang dahulu juga gagal dididik untuk memaknai arti sukses secara hakiki? sehingga parameter sukses belajar selalu diindetikkan dengan prestasi akademik, kepandaian dari sisi IQ saja, dan semua yang bersifat kosmetik (nampak di luar) ? Bagaimana dengan yang ada di dalam jiwa? bagaima dengan yang dirasakan setiap anak? Apakah dia memang benar benar mencintai sekolah, ataukah sesungguhnya tidak happy dan tertekan? adakah assessment kita yang salah sejak awal?
Apakah anak kita, kita paksa sampai batas maksimal tertinggi kemampuannya, baik waktu, konsentrasi, fokus, tenaga, hanya untuk menyelesaikan berbagai pelajaran, PR, tugas, test, kuis, semata mata demi memenuhi standar penilaian yang berbasis pada ilmu pasti saja? Kecerdasan emosi kurang terukur, terabaikan, atau setidaknya tidak menjadi prioritas?
Pernahkah ada deep analysis mengenai hal ini?
Akhirnya sore hari waktu papua, Dinda berusaha mengungkapkan apa yang dia rasakan. Handphoneku berdering, dan Dinda menyapa. Dia berusaha berkata lugas keinginannya pindah sekolah. Aku berusaha membangun dialog, semua kata katanya aku perdalam dengan pertanyaan. Dinda emosi dan tak bisa berkata apa apa, menangis terisak. Emosinya memenuhi hati.
Handphonenya diberikannya ke Mamanya. Kataku "lhooo kok nangis mah dinda, ...ya udah nanti sore maghrib kan, tolong sampaikan ke dia mah, sholat maghrib dulu nanti, lalu mengaji.. setelah tenang, ayah mohon dia ungkapkan alasannya mengapa dia harus pindah sekolah, tulis dalam selembar kertas dan kirim fotonya"
istriku menyambung, "yah tadi siang dinda ditegur oleh PAK GURU, gara gara mamah kemarinnya nanya ke pak Guru via WA, kenapa dinda ga lulus test, mau tanya saja alasannya apa, karena kita tahu sejak usia 5,5 tahun pun dinda sudah bisa mengaji al quran walaupun versi guru ngaji panggilan. Nah.. tadi siang katanya dinda di tegur oleh PAK GURU, pak Guru bilang "ini nih suka ngadu ngadu ke mamanya jadi pak guru ditanya tanya kenapa ga lulus. Bapak kan sudah bilang kalau liburan kalian tetap belajar, pasti kamu malas ga belajar dan ngaji"
aku kaget, " haaah...masa Pak Guru bilang begitu dengan Dinda, melabeli Dinda tukang ngadu, dan melabeli Dinda malas? ah mungkin Dinda salah penerimaan mah, namanya sedang sensitif"
"sudah gini aja, nanti ayah telpon pak GURU, biar ga ada kesalahpahaman, dan dinda tidak disudutkan, karena massalah dinda ngadu, itu hanya beda persepsi, justru aku lebih suka anakku terbuka apa yang dia rasakan di sekolah, karena peranku sebagai Ayah juga gurunya di rumah, perlu tahu apa yang terjadi di sekolah.."
10 menit kemudian aku telpon Pak Guru, namun tidak diangkat, 2-3 kali di sore hari. Kusambung juga telpon di malam hari, 2 kali tidak diangkat. Aku paham mungkin ada kesibukan lain jika telpon berkali kali tidak membuat orang mengangkat telepon.
Tak lama setelah itu dinda mengirim foto, tulisan tangan apa alasannya ia ingin pindah. Begini katanya:
![]() |
| Justifikasi Dinda Mengapa Ingin Pindah Sekolah |
Justifikasi dinda, (1) dia kesal dengan gurunya, disimpulkan pak Guru pilih kasih menurut versi dinda (2) teman2nya yang lulus terlalu atraktif sehingga dinda panas (mohon dimaklumi ya, however she is still my dearest daughter :D) (3) baru juga masuk dah ada PR (4) kakak cape nanti fullday (5) kaka bisa ngaji di tempat lain (jika pindah sekolah) (6) semoga tahun ajaran ini kaka bisa hafal 3 juz.
aku tertawa setelah membaca keseluruhan resumenya.
Oke nak...Approve kamu pindah sekolah!! 👌
eitt ....namun dengan catatan dan syarat yang harus kamu penuhi yahh...
berikut syarat dari Ayah:
1. kaka harus memaafkan pak GURU, bagaimanapun pa GURU sudah berjasa mengajarkan kaka selama di SDIT, nanti saat berpisah kaka harus memaafkan pa GURU dan pamit, salim dan senyum sambil mengucapkan terimakasih dengan pak GURU, semoga Allah menjadikan kita tetangga di syurgaNya Allah dengan pak GURU dan teman teman kakak...
2. kaka juga harus memaafkan teman teman kaka semua, karena mereka selama ini sudah menjadi teman yang baik dengan kk, dan saat kaka pindah nanti kaka kasih masing masing kenangan satu pulpen, nanti uangnya dari ayah...
3. mulai detik ini kaka fokus untuk menjadi penghapal Al Quran, selalu berdoa ya nak...berdoa, minta hati kaka dan akal kaka dibuka dan dimudahkan untuk menyerap Al Qur'an, mudahkan memahamkan ajaran Islam, dan berdoa semoga Allah memberi jalan agar kaka menjadi ustadzah yang menuntut ilmu hingga ke makkah madinah dan negeri arab kelak, dan menjadi pemimpin orang orang yang bertaqwa, menjadi kebanggaan mama ayah dan kebanggaan Islam..
![]() |
| WA dengan Dinda |
dan malam itu dinda tidur dengan nyenyak, lusa ia akan mempersiapkan kata kata perpisahan di depan teman teman sekelas sesyurganya insya Allah. Dinda harus belajar menghadapi semua masalah dengan tegar dan tabah, menjalani prosesnya menikmati keberkahan keberkahan di dalamnya, sedang bahagia?? ga usah ditanyain nak
Jalani aja nak dengan sabar dan niat ikhlas, sebab jika ikhlas niat kita, akan berkah proses kita, dan jika judulnya berkah maka makmum si berkah pastilah si kebahagiaan :)
Sampai jumpa esok lusa ya nak, di hari perpisahan dengan kawan kawanmu terkasih. Kita akan diskusi lagi by phone. :)
Cium peluk ayah dari Jayapura
4000 kilometer jauhnya tapi hatimu tetap dalam pelukan
-Ayah-
![]() |
| Hatimu selalu dalam pelukan nak.. |
Akhirnya Dinda Pindah Ke SD Negeri...




Tidak ada komentar:
Posting Komentar