Pengikut

Selasa, 16 Juli 2019

(Bag 1) Dinda Belajar Kecewa...


Senin, 15 July, menjelang ashar, di sebuah kantor BUMN (asal China :D) bernama ZTE Office di lantai 5,  dari jauh lamat lamat  terdengar lantunan TARHIM dari masjid raya Jayapura yang jaraknya hanya 5 menit melangkahkan kaki. 

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik
Yaa imaamal mujaahidiin Yaa Rasuulallaah


Tarhim yang sejatinya hanyalah budaya (bukan syariat), sejak zaman 1960 an yang dulu melegenda diperdengarkan di masjid masjid di Jawa Timur, namun di masjid raya ini kini hampir setiap menjelang 5 waktu tiba, diperdengarkan TARHIM 10 menit sebelumnya...

Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik                        Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu
Yaa imaamal mujaahidiin Yaa Rasuulallaah        Duhai pemimpin para pejuang, ya Rasulallah
Ash-shalaatu was-salaamu ‘alaik                         Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepadamu
Yaa naashiral hudaa Yaa khaira khalqillaah        Duhai penuntun petunjuk Ilahi, duhai makhluk yang terbaik.

Hujan setengah lebat membasahi jalan jalan dan atap atap gedung dan ruko ruko di kota kecil ini,  burung burung pipit sembunyi di balok kayu kayu lapuk di bawah genting. Lapuk karena rayap ataukah lapuk karena sering menjadi kayu basah. Lalu kemudian lama lama menyusut saat kering dan ikatannya menjadi tidak kokoh.

Sopir angkot di kota di ujung indonesia ini merayap melintas jalan, memicingkan mata, mengais cahaya dari jalan yang sesaat meredup, memenuhi angin dan angan dengan rintik air hujan yang bagaikan bunyi kawanan lebah berkejaran membasahi bumi.

"yah, lagi sibuk ga" tiba tiba wa istriku masuk.

Aku langsung tanggap, kutelpon langsung ke nomernya. Lalu berceritalah istriku nun jauh disana di sebuah negeri bernama cirebon, bahwa ia baru saja mengantar pulang anak pertama kami dari sekolahnya (adalah hari ini hari pertama Sekolah, setelah satu bulan lebih liburan), "Dinda" usia 9 tahun kurang 1 bulan, kini duduk di SD kelas IV.  

Dinda Fatimah
Rupanya dinda baru saja ikut seleksi grouping untuk kelas Khotmil Qur'an.

Khotmil adalah sesi lanjutan untuk membaca Al Qur'an dengan baik dan benar termasuk tajwidnya. Rupanya siang itu ada seleksi untuk kelas ini dan Dinda termasuk yang dinyatakan tidak lulus, dan disarankan ikut seleksi lagi di tahun depan (kelas V).

Rupanya kenyataan ini adalah hal yang tidak mudah buat dinda menerimanya. Tangisnya pecah sejak ibunya menjemput di sekolahnya, dan sepanjang perjalanan pulang di atas scoopy dinda terus mengungkapkan kekecewannya sambil mengusap air mata di pipinya.

"Pak GURU kayaknya pilih kasih deh mah...masa teman yang diseleksi IBU GURU  lulus semua, padahal ga monyong monyong makhorijul hurufnya kaya yang dimau PAK GURU.." jelas Dinda,

Mulai deh analisa analisa seorang anak yang didasari rasa cemburu disimpulkannya.

"mana dinda? ayah mau ngomong" ucapku,

Dari jauh hampir tidak ada suara, kufikir conovo atau sinyal drop sehingga tidak ada voice yang ditansmisikan, namun 5 detik kemudian mulai terdengar suara dia terbata bata sambil terisak. Dalam hati aku cuma takjub, dinda rupanya benar benar kecewa :).
Lalu akhirnya terdengar jelas suaranya:

"yah dinda mau pindah sekolah aja deh, disini ga enak " ucapnya, 
mungkin yang dia jabarkan dengan "ga enak" itu ga adil :)
"emang dinda mau pindah kemana ? bukannya disana dinda masih nyaman, ada marching bandnya pula tempat dinda berlatih", kataku menenangkan. 

"ya nyaman sih ya teman temannya enak" lama berfikir sebentar, lalu dinda bilang "nyaman kok yah dinda disini" dengan suara parau yang berubah ceria seketika. (belakangan aku tahu ini adalah bentuk kepurapuraan Dinda karena tidak ingin aku kecewa).

"yaa...sudah kalo dinda nyaman, dinda sabar yah, dinda ga lulus seleksi itu artinya dinda harus banyak belajar lagi supaya terdengar paling indah dan tartil tilawahnya. disaat dinda menangis begini karena kecintaan dinda dengan Al Qur'an Insya Allah, Allah makin sayang dan sedang Tersenyum dengan dinda saat ini.." nasihatku menutup. 

Lazimnya anak kecil, perlu jeda sesaat supaya kesedihannya reda dan akhirnya benar benar lupa.Jadi kupercayakan istilah yang mengatakan bahwa "waktu itu menyembuhkan".

Wajar Dinda kecewa, sebab sejak tahun lalu Dinda sudah ikut seleksi kelas ini, dan gagal, Sehingga ini kali kedua ia gagal. Sehari sebelum seleksi Senin kemarin bahkan Dinda memohon didoakan selalu oleh mbah putrinya. Berulang ulang mengingatkan mbahnya untuk tiap waktu mendoakan kelulusan dinda bergabung dengan kelas khotmil.



Rintik hujan mulai berkurang, namun dingin angin yang berhembus dari bukit bukit pegunungan cyclops papua masih mampu menusuk tulang. Kuakhiri menjelang ashar dengan pesan pesan penyemangat untuk dinda dalam wa lewat mamanya.

Belajar kecewa sejak dini itu baik, sebagaimana hidup tidak selalu sesuai apa yang kita inginkan, dan  jika sedari kecil dinda mengerti itu, akan baik baginya untuk beradaptasi sesuai dengan qadha dan qadar Allah hingga ia dewasa nanti.

 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun". (QS. Al Baqoroh : 155 – 156)

Kututup percakapan tema dengan dinda via aplikasi whatsapp ibunya, entah bagaimana membahasakannya dengan bahasa sederhana agar ia bisa melihat dengan sudut pandang yang lebih ikhlas, terus terang aku kehabisan kata.

Karena ikhlas itu memang tidak mudah diajarkan, disebabkan bab pertama ilmu ikhlas itu diawali dengan belajar menerima kekecewaan.





Bersambung ke....Dinda Minta Pindah Sekolah




Tidak ada komentar:

Posting Komentar